Tuesday, 15 November 2016

Kisah Kaum Nabi Nuh dalam Alquran

Kisah Kaum Nabi Nuh yang pernah menempati bagian dunia pada 3000-2500 SM menjadi pengajaran yang diabadikan Allah di dalam Alquran kepada Umat Nabi Muhammad dan manusia seluruh alam.

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. At-Taubah: 70)Top of Form

       Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?”. Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila , maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. Nuh berdoa, “Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakanku” .(Al-Mukminun : 23-26)

Nabi Nuh Menyeru Kaumnya pada Agama Kebenaran

Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selainNya”. Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat)”. (Al-A’raf: 59)
Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam. Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. QS. Asy-Syuara’: 107-110)
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu ia berkata “Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain Dia. Maka mengapa kamu tidak bertakwa (kepadaNya)?”.QS. Al-Mukminun: 23)

Peringatan Nabi Nuh kepada kaumnya untuk Menghindari Hukuman dari Allah Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan):

“Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”(QS. Nuh: 1)
Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa oleh azab yang menghinakannya dan yang akan ditimpa azab yang kekal. (QS. Hud:39)
Agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan. (QS. Hud: 26)

Pembangkangan kaum Nabi Nuh

Pemuka-pemuka dari kaumnya berkata: “Sesungguhnya kami memandang kamu berada dalam kesesatan yang nyata”.(QS. Al-A’raf: 60)
Mereka berkata: “Hai Nuh sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami, dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. (QS. Hud: 32)
Dan mulailah Nuh membuat bahtera . Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkata Nuh: “Jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami). (QS. Hud: 38)
Maka pemuka-pemuka orang yang kafir di antara kaumnya menjawab: “Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu , yang bermaksud hendak menjadi seorang yang lebih tinggi dari kamu . Dan kalau Allah menghendaki , tentu Dia mengutus beberapa orang malaikat. Belum pernah kami mendengar seruan (seruan yang seperti) ini pada masa nenek moyang kami yang dahulu. Ia tidak lain hanyalah seorang laki-laki yang berpenyakit gila, maka tunggulah (sabarlah) terhadapnya sampai suatu waktu. (QS. Al-Mukminun: 24-25)
Sebelum mereka, telah mendustakan (pula) kaum Nuh maka mereka mendustakan hamba Kami (Nuh) dan mengatakan: “Dia seorang gila dan dia sudah pernah diberi ancaman”.(QS. Al-Qamar: 9)

Penghinaan terhadap para pengikut Nabi Nuh

Maka berkatalah pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya: “Kami tidak melihat kamu , melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami, dan kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu , melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja, dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apapun atas kami, bahkan kami yakin bahwa kamu adalah orang-orang yang dusta”. (QS. Hud: 27)
Mereka berkata: “Apakah kami akan beriman kepadamu, padahal yang mengikuti kamu ialah orang-orang yang hina?” Nuh menjawab: “Bagaimana aku mengetahui apa yang telah mereka kerjakan?”. Perhitungan (amal perbuatan) mereka tidak lain hanyalah kepada Tuhanku, kalau kamu menyadari .Dan aku sekali-kali tidka akan mengusir orang-orang yang beriman. Aku (ini) tidak lain melainkan pemberi peringatan yang menjelaskan. (QS. Asy-Syuara’: 111-115)

Peringatan Allah agar Nabi Nuh tidak Bersedih

Dan diwahyukan kepada Nuh , bahwasanya sekali-kali tidak akan beriman di antara kaummu, kecuali orang yang telah beriman (saja), karena itu janganlah kamu bersedih hati tentang apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Hud: 36)

Doa Nabi Nuh

Maka itu adakanlah suatu keputusan antaraku dan antara mereka , dan selamatkanlah aku dan orang-orang yang mukmin besertaku. (QS. Asy-Syuara’: 118).
Maka dia mengadu kepada Tuhannya : “bahwasanya aku ini adalah orang yang dikalahkan, oleh sebab itu tolonglah (aku). (QS. Al-Qamar: 10)
Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). (QS. Nuh: 5-6).
Nuh berdoa : “Ya Tuhanku tolonglah aku, karena mereka mendustakan aku.”(QS. Al-Mukminun: 26)
Sesungguhnya Nuh telah menyeru kami : Maka sesungguhnya sebaik-baik yang memperkenankan (adalah Kami).(QS. Ash-Shaffat: 75)

Pembuatan Kapal (Bahtera)

Dan buatlah bahtera itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami , dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang zalim itu , sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan. (QS. Hud: 37)

Penghancuran umat Nabi Nuh dengan cara Ditenggelamkan

Maka mereka mendustakan Nuh , kemudian kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).(QS. Al-A’raf: 64)
Kemudian sesudah itu Kami tenggelamkan orang-orang yang tinggal.(QS. Asy-Syuara: 120)

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya, maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun.Maka mereka ditimpa banjir besar , dan mereka adalah orang-orang yang zalim.(QS. Al- Ankabut: 14)

Dibinasakannya Putera Nabi Nuh

Al-Qur’an sehubungan dengan dengan dialog yang terjadi antara Nabi Nuh dan puteranya, pada tahap-tahap awal dari terjadinya banjir mengungkapkan:

Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!”. Nuh berkata : “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya ; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud: 42-43)

Diselamatkannya Orang-Orang yang Beriman dari Banjir

Maka Kami selamatkan Nuh dan orang-orang yang besertanya di dalam kapal yang penuh muatan.(QS. Asy-Syuara: 119).
Maka kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua umat manusia. (QS. Al-Ankabut: 15)

Bentuk Fisik dari Banjir yang Terjadi

Maka Kami bukakan pintu-pintu langit dengan (menurunkan) air yang tercurah . Dan Kami jadikan bumi memancarkan mata air-mata air maka bertemulah air-air itu untuk satu urusan yang sungguh telah ditetapkan. Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku. (QS. Al-Qamar: 11-13).

Hingga apabila perintah Kami datang dan ‘dapur’(permukaan bumi yang memancarkan air hingga meneyebabkan timbulnya taufan) telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman”. Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung, dan Nuh memanggil anaknya sedang anak itu berada di tempat jauh terpencil : “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.”. (QS. Hud: 40-42).

Lalu Kami wahyukan kepadanya : “Buatlah bahtera di bawah penilikan dan petunjuk Kami, maka apabila perintah Kami telah datang dan ‘tannur’ telah memancarkan air, maka masukkanlah ke dalam bahtera itu sepasang dari tiap-tiap (jenis), dan (juga) keluargamu, kecuali orang yang telah lebih dahulu ditetapkan (akan ditimpa azab) di antara mereka. Dan janganlah kamu bicarakan dengan Aku tentang orang-orang yang zalim, karena sesungguhnya mereka itu akan ditenggelamkan.(QS. Al-Mukminun: 27)

Terdamparnya Perahu di Tempat yang Tinggi

Dan difirmankan: “Hai bumi tahanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah,” dan airpun disurutkan, perintah pun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim”. (QS. Hud: 44)

I’tibar yang Diambil dari Peristiwa Banjir

Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa )nenek moyang) kamu ke dalam bahtera, agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar. (QS. Al-Haqqah: 11-12)

Pujian Allah terhadap Nabi Nuh

“Kesejahteraan dilimpahkan atas Nuh di seluruh alam”. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Ash-Shaffat: 79-81)

Di samping dikemukakan dalam Perjanjian Lama, kisah tentang banjir Nuh ini diungkap dengan cara yang hampir mirip dalam rekaman-rekaman sejarah Sumeria dan Assiria-Babilonia, dalam legenda-legenda Yunani, dalam Shatapatha, Brahmana serta epik-epik dalam Mahabarata dari India, dalam beberapa legenda dari Welsh di British Isles, di dalam Nordic Edda, dalam legenda-leganda Lituania, dan bahkan dalam cerita-cerita yang berasal dari Cina.

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim
Share:

Kisah Kaum Nabi Syu'aib, penduduk Madyan

Edisi kali ini adalah tentang generasi-generasi masa lampau!
Semoga menikmati.

Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi mereka lah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. At-Taubah: 70)Top of Form

Apa yang telah terjadi antara Syu’aib dan kaum Madyan dimana dia diutus, menggambarkan hubungan antara nabi dengan kaumnya sebagaimana yang disebutkan diatas. Reaksi dari suku Syu’aib terhadap Syu’aib, yang menyerukan kepada mereka untuk beriman kepada Allah dan menghentikan semua tindakan ketidakadilan yang telah mereka lakukan, dan bagaimana itu semua berakhir sangatlah menarik :

Dan kepada (penduduk) Madyan (Kami utus) saudara mereka Syu’aib, Ia berkata: “Hai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tiada Tuhan selain Dia. Dan jaganlah kamu kurangi takaran dan timbangan, sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (mampu) dan sesungguhnya aku khawatir terhadapmu akan azab hari yang membinasakan (kiamat).”
Dan Syu’aib berkata: “hai kaumku, cukupkanlah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan janganlah kamu berbuat kejahatan di muka bumi dengan membuat kerusakan.
Sisa (keuntungan) dari Allah adalah lebih baik bagi kamu jika kamu orang-orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas diri kamu.
Mereka berkata: “Hai Syu’aib, apakah sembahanmu yang menyuruh kamu agar meninggalkan apa yang disembah oleh bapak-bapak kami atau melarang kami berbuat apa yang kami kehendaki tentang harta kami. Sesungguhnya kamu adalah seorang yang sangat penyantun lagi berakal.
Syu’aib berkata: “Hai kaumku, bagaimana pikiranmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan dianugerahi-Nya aku daripada-Nya rezeki yang baik (patutkah aku menyalahi perintah-Nya). Dan aku tidak berkehendak mengerjakan apa yang aku larang kamu daripadanya. Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku, melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakal dan hanya kepada-Nya lah aku kembali.
Hai kaumku, janganlah hendakya pertentangan antara aku (dengan kamu) menyebabkan kamu menjadi jahat hingga kamu ditimpa azab seperti yang menimpa kaum Nuh atau kaum Hud atau kaum Shaleh, sedang kaun Luth tidak (pula) jauh (tempatnya) dari kamu.
Dan mohonlah ampun kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku Maha Penyayang lagi maha Pengasih.

Mereka berkata: “Hai Syu’aib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang benar-benar lemah diantara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamupun bukanlah seorang yang berwibawa disisi kami.
Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluargaku lebih terhormat menurut pandanganmu daripada Allah, sedangkan Allah kamu jadikan sesuatu yang terbuang dibelakangmu?. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan”.
Dan (dia berkata): “Hai kaumku, berbuatlah menurut kemampuanmu, sesungguhya akupun berbuat (pula). Kelak kamu akan mengetahui siapa yang akan ditimpa azab yang menghinakannya dan siapa yang berdusta. Dan tunggulah azab (tuhanku), sesungguhnya akupun menungu bersama kamu.”
Dan tatkala datang azab Kami, Kami selamatkan Syu’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmat dari Kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang mengguntur, lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di tempat tinggalnya. Seolah-olah mereka belum pernah berdiam di tempat itu. Ingatlah kebinasaanlah bagi penduduk Madyan sebagaimana kaum Tsamud yang telah binasa. (QS Huud 84-95).

       Dengan memikirkan “batu /prasasti Syu’aib” yang tidak lain kecuali menyerukan mereka kepada kebaikan, kaum Madyan dihukum dengan kutukan dari Allah dan merekapun telah dibinasakan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat diatas. 
 
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS Yusuf 109-111)
Share:

Monday, 14 November 2016

Langkah Panjang Pertamamu

"Kau ingat masa itu Mi. Saat hati di penuhi cerita akan kita saja. Aku menikmati akan sajian tingkah lucumu. Tandukmu yang kau tujukan pada buncitnya perutku kala itu, menuai gelak tawa yang menampilkan rapinya ukiran gigi susu di mulutku.

Ratusan lembar bingkai foto antara aku dan kamu tersusun di laci folderku kini. Ceritamu tentang harimau sumatera, kisah Umar sang bocah tak melihat yang hafal Alquran, Ivan Goji si perenang tak berlengan dan buku kelinci dan wortelnya masih suka ku buka berulang-ulang dalam malam gelap menuju lena, manakala mata ini sulit terpejam.

Aku ingat jari tengah dan telunjukku yang indah berlari mencoba sembunyi dari kejaran dua jariku pada balik dinding garis itu. Aku mengeong bagai kucing lapar yang ingin menerkammu. Kau pun laksana tikus kecil yang berusaha sembunyi dan mengunci pintu pada labirin kertas pijakan jari kita.

Mi, terkadang airmataku juga selalu kau buat jatuh. Sering kau sudahi jatah jajanku manakala aku selesai melahap jatah makan siangku. Padahal kau tau, aku sangat menginginkannya. Cobalah kau rasa minuman susu itu Mi, nikmat sekali rasanya, apalagi rasa coklat dan dingin. Tapi kau selalu bilang cukup, dengan alasan perutku sudah kenyanglah, mataku sudah mulai merah dan  mengantuk dan banyak pesan-pesan lagi darimu yang terkadang aku tidak paham, katamu kurang bagus nanti buat kesehatanku atau apalah".

Matahari kembali menyala setelah lama berdiam diri dirimbunan awan. Rasanya gerimis akan turun.

Angin berhawa sejuk menerpa tubuh lelaki gagah itu. Ujung kain sarungnya yang tak terlipat menjadi mainan sang angin.

Bulat bola matanya yang hitam, syahdu menatap tumpukan tanah. Hatinya tergores, ada luka tersayat menikam.

Bening air mulai membuntal di ujung mata itu. Mata yang selalu terlihat tenang. Dari sanalah dia mencoba memahami semuanya selama ini.

"Dulu selalu kau dodaidikan aku dengan kalimat tidur yang aku suka. Ya, nyanyian salawat dan lafaz pengagungan terhadap Allah. Kau pun dodaidikan dengan nama 25 nabi dan Rasul.

Andai kau buka matamu Mi, kau pasti tercengang aku kini lebih tinggi darimu. Mungkin tubuh ringkihmu mampu untuk ku gendong dan kudekap seperti dulu aku selalu kau sembunyikan dalam kain gendong.

Mi, aku tau kau mendengar, tuhan mengabulkan do'aku untukmu. Banyak malam yang ku lalui dengan melihat dirimu di ujung bibir lautan, segulungan ombak senantiasa memelukmu dalam ketenangan yang mampu menyunggingkan senyum terindahmu. Persis senyum saat aku masih di dekapan dadamu yang bergaun biru.

Aku ingin berbaur denganmu Mi, menangkap ikan-ikan di air dangkal itu. Tapi tak bisa. Kau hanya menatapku dan berkata,'dirimu belum ada ilmu nak, belajarlah, Mi akan menunggu disini'".

Matahari kembali bersandar pada gumpalan awan berkabut.
Titik-titik air terbawa deru angin.

"Dalam langkah panjangmu yang pertama dahulu kau sangkakan adalah perjalananmu yang mampu memisahkan kita berdua. Ternyata kita semua salah dugaan Mi.

Tulisanmu di buku itu masih menjadi sahabatku hingga kini, yaitu saat di mana aku juga telah melakukan perjalanan pertamaku yang panjang. Saat dimana perjalananku inilah yang mampu memisahkan kita."

Lelaki itu mencoba melangkahkan kakinya. Hujan mulai deras. Sendal jepit yang digunakan dibukanya perlahan. Banyak gumpalan tanah kuning menempel di sana. Ada kebahagiaan yang menyisa pada curahan air hujan yang telah membasahi hampir seluruh tubuhnya. "Mi sangat senang membiarkanku untuk menikmati mandi hujan setiap hujan itu hadir." Batinnya.

Langkah kecilnya mulai menyusuri pinggiran lorong kecil. Genangan air mulai mengambang pada petak pemakaman ini. Sekilas di palingkan wajahnya menatap timbunan yang tampak baru di antara lainnya. Ada sosok Mi yang tersenyum mengembang disana.####

Share:

Sunday, 13 November 2016

Wudhu'? Sepenting itukah!



Tari meronta-ronta tak jelas. Kakinya di tendang tak berarah, kadang kedepan, kadang di tarik ke atas, kadang juga kesamping, bibirnya pun bergumam tak jelas, melihat kondisinya seperti itu perempuan berkerudung di sampingnya meluncurkan istighfar berulangkali.

Pundak Tari semakin kuat di cengkeraman. Ada rasa sayang mendalam terhadap putrinya yang satu ini. Ini sudah kedua kalinya.

"Tari, bangun nak, istighfar nak." Panggilnya cemas. Kalimat tauhid berkali diulang di sela istighfarnya. Malam larut begini harus kemana dia mencari pertolongan. Suaminya masih dinas di luar kota, dan para tetangga pasti sudah terlelap dalam mimpi mereka masing-masing. Perempuan itu pun mendesah panjang, membatin sendiri, andai suaminya ada, pasti hal seperti ini mudah baginya. Dengan segera berwudhu' dan mengumandangkan adzan di sisi Tari, maka Tari akan segera kembali tersadar.

"Nak, bangun nak." Panggilnya kembali. Hatinya tak lepas dari memanjatkan do'a kepada Allah, agar memberikan kemudahan atas apa yang kini sedang terjadi. Akhirnya Tari tampak diam sejenak. Walau matanya masih terpejam, kelopak itu bergerak-gerak seperti hendak di buka, tapi Tari tak kuasa. Ibunya tahu itu.

"Oh, ya Allah, kenapa aku jadi lupa?" Bisiknya pelan. Tubuh Tari di lepas dari genggamannya, dan iapun melangkah menuju pintu di sudut kamar itu. Sesaat gemericik air mengisi relung suara kosong di malam dingin, dan perempuan itu kembali keluar dengan wajah yang basah. Tangan kanannya kembali mengusap muka putih yang sedikit menyunggingkan senyum. "Alhamdulillah." Bisiknya lirih. Syukurlah Allah mengingatkan untuk segera berwudhu'.

Tari tampak diam di pembaringannya. Perempuan itu kembali mendekat. Batinnya mengagungkan asma Allah, di saat seperti ini dia diingatkan untuk segera berwudhu' dan membacakan Alfatihah, dilanjutkan dengan Alikhlas, Alfalaq, dan di sudahi dengan Annas. Rabbi 'a'udzubika min khamajatissyayatin, ya Allah aku berlindung kepadaMu dari tipu daya syaitan, perempuan itu kemudian meniup seluruh sisi tubuh Tari di lanjutkan pada ubun-ubun putri bungsunya yang seketika menggeliat dan kembali terdiam.

Tari mencoba membuka matanya, badannya terasa berat sekali untuk di miringkan. Hanya denting jam yang di dengar.

"Allah." Bisiknya. "Ibu, ibu dengar Tari panggil?" Tanyanya heran.

"Seperti ada yang menimpa badan Tari barusan Bu, Tari udah teriak tapi rasanya suara Tari tidak keluar." Keluh Tari.

Perempuan di depannya hanya tersenyum. "Tari lupa berwudhu' sebelum tidur ya?" Tanya Ibunya, tangannya menutup buku yang terbuka di samping bantal bermotif daun yang digunakan anaknya.

"Kekalkanlah wudhu' nak, niscaya Allah akan membuat 70 dinding pemisah antara syaitan dan dirimu." Senyum perempuan itu kembali mengembang.

"Iya bu, Tari ketiduran." Hanya itu yang meluncur dari bibir Tari. Sekilas terbayang kengerian yang baru saja di alami. Pikirannya berkelebat menghitung jumlah, ini yang kedua, batinnya. Kejadian ini mulai mengusik diri Tari sebulan ini, manakala permintaan dari Ibu dan Ayahnya untuk mengekalkan wudhu' dipenuhi, ternyata hal itu tidak di senangi oleh syaitan yang senantiasa mengiringi tubuhnya. Jangankan untuk mengambil peran di pikiran gadis itu, untuk mendekati saja susah, apalagi untuk masuk ke aliran darahnya. Hal mustahil bagi syaitan tersebut.

"Ayo, sekarang wudhu' sana! Ingat nak, dengan kekal wudhu', di padang mahsyar nanti Nabi Muhammad akan mudah sekali mengenali kita sebagai umatnya, seperti kuda putih dalam kawanan kuda hitam di padang rumput, bukankah kita sangat mudah untuk mengenalinya, kata beliau." Ibu mengusap kepala Tari sebelum bangkit dan beranjak pergi. Ada rasa yang mengalir jernih Tari rasakan. "Sekalian shalat malamnya ya sayang."

Tari mengangguk pelan. Ada senyum di ujung bibir mungil yang tersungging.####
Share:

Bulan Hantu



"Kau dengar apa yang terjadi dengan Renda malam kemarin? Ih, aku jadi bergidik mendengarnya." Safu mengoceh pelan, kakinya tetap mengikuti irama sendal jepit yang di pakainya malam ini.

"Untunglah Mail mengejarnya, jika tidak pasti Renda nggak akan selamat." Balas Rafi.

"Aku nggak sanggup bayangin saat kaki kiri Renda di tarik dan di seret-seret sepanjang pematang tambak sampai masuk ke hutan bangka, di situ kan gelap, syukur malam itu malam terang, jadi Mail yang berada di depannya nampak saat Renda diseret." Safu mengangkat lipatan kain sarung di pundak turun naik dengan kedua tangannya.

"Mungkin Mail tarik-tarikan dengan hantu itu ya, tapi syukurlah Renda bisa lepas."

"Iya, kalau dipikir rasanya mustahil kali ada hantu di zaman begini ya Fi. Mau nggak percaya tapi hal gaib itu ada. Eh, malah di malam yang sama sekitar jam sebelas Bang Unir lihat orang di pengkolan depan rumahnya, yang aneh kan orang itu makin di lihat makin beda." Safu menambahkan. Sebenarnya Safu malas untuk cerita karena semakin di omongin kata tengku, hantu itu semakin mendekati, katanya lagi karena senang hatinya kita menyebut-nyebut dia. Bulu kuduk Safu mulai meremang. 

Rafi menoleh tiba-tiba. Kakinya kini terpaku di bumi. "Yang benar aja nih! Trus orang itu perempuan apa laki-laki?" Tanya Rafi tak sabar.

"Ya putih gitu! Rambutnya panjang sepinggang, tapi mukanya nggak jelas, orang kata Bang Unir makin di lihat makin beda aja, tapi postur tubuhnya mirip almarhumah kak Dara yang rumahnya di dekat pengkolan itu." Safu tetap berjalan dengan langkah kecil dan disusul Rafi yang berjalan cepat.

"Mungkin aja roh kak Dara itu Fu, jangan-jangan yang narik kaki kiri Rendi adalah roh yang sama." Kepala Rafi mengangguk-angguk seolah puas dengan persepsi yang baru saja di lontarkan.

Safu menoleh langit. Tangannya menunjuk bulan yang sinarnya semakin berpendar. "Kau lihat bulan itu, malam besok genap 15, purnama Fi, aku baca di internet tadi fengshui cina mengatakan malam besok adalah puncak malam hantu."

"Maksudmu?" tanya Rafi tak mengerti.

"Kata mereka ini adalah bulan hantu, banyak roh yang gentayangan." 

"Bulan Nopember ini." Rafi menjadi semakin bingung. Di pandangi Safu tak lekang untuk menanti jawaban selanjutnya.

"Bukan, bukan bulan Nopembernya, dalam kalender mereka bulan ini pas dengan kalender apa gitu?" Safu menjelaskan. Sebenarnya Safu juga kurang paham akan isi artikel yang di bacanya, dan sekuat tenaga dihubung-hubungkan dengan ilmu yang dimiliki, tapi tetap saja dia belum tau titik terangnya.

Rafi tiba-tiba menyela. "Aku pernah dengar dari ayahku, kata beliau aku memiliki watak yang keras, karena aku lahir di bulan safar. Memang benar ya."

"Bisa jadi, aku juga pernah dengar, kata tengku bulan safar itu panas, tapi aku nggak tau panas apanya!" 

"Ya, ya, karena panas itu tadi, makanya para roh keluar dari tempatnya. Hei, Fu sekarang kan bulan safar, besok 15 safar 1438 H, pas itu, mungkin itu sebabnya." Rafi menjetikkan jari. 

"Ah, ngaco bener kau Rafi. Yang jelas kita mau lewatin pengkolan dekat rumah almarhumah kak Dara nih, aku ada perasaan nggak nyaman tau." Safu mengusap kuduk lehernya dengan tangan kanan berkali-kali. Tanpa menunggu aba-aba, sendal jepitnya sudah di bawa berlari menyusuri pengkolan jalan yang ternyata tiba-tiba gelap. Terangnya lampu jalan kini di gantikan cahaya redup bulan yang mulai di selimuti arakan awan. Semua lampu itu kini mati.

"Safu, tunggu!" Rafi lari tunggang langgang mengejar Safu yang hampir hilang di ujung jalan itu.####
Share:

Sunday, 30 October 2016

Bahagia Itu Sederhana



Lelaki bersahaja itu membetulkan letak sarung bercorak pintu aceh yang di pakainya sore ini. Indah nian dalam sorotan retinaku yang menyipit karena cahaya matahari jingga. 

Dauni terkekeh terpingkal-pingkal mendengar jawaban dari lelaki itu atas pertanyaan si ibu yang berada tak jauh dari depannya. Tampak muka sang ibu berubah masam.

"Kau dengar Dahanu, sungguh jawaban yang sempurna dari lidah lelaki itu, aku sangat suka sekali saat dia menjawab dengan 'hate brok' (hati yang buruk)." Dauni tetap terpingkal sejalur angin yang terus menggodanya.

Memang sepintas ku rasakan tidak ada hubungannya sama sekali apa yang menjadi pertanyaan si ibu dengan lelaki itu, yang ku dengar adalah si ibu mengeluhkan dirinya adalah madu dari suaminya, tetapi selalu mendapat hinaan langsung maupun tidak langsung dari istrinya yang pertama, terasa berat sekali bagi dirinya menurut sebagaimana lelaki itu jelaskan sore ini pada surat Annisa, 'kita harus memaafkan' katanya. Jadi kalau kita tidak bisa memaafkan bagaimana? Tanyanya, saya sakit hati! dan itulah jawaban yang di dengar Dauni dari lelaki itu. Hmm.. 'hate brok', aku ingin juga terpingkal seperti Dauni, tapi melihatnya senang seperti itu, cukuplah bagiku hanya diam dan mendoakan si ibu agar di jauhkan dari hal tersebut.

"Bahagia akan kita rasakan jika kita memenuhi hati ini dengan keikhlasan, bahagia itu sederhana, ada kalanya kita melihat anak saat dia tersenyum hati sudah gembira, banyak juga yang harus kumpul-kumpul bersama teman dia baru bisa bahagia, ada dari mereka cukup bersama ibunya maka kebahagian dapat dirasakan, tak sedikit juga harus menipu dirinya sendiri dengan mencari kesenangan yang dalam pandangannya akan berakhir bahagia layaknya teman dari kalangan narkoba, manusia se-ide dalam maksiat, juga sahabat mata yang bersyahwat tanpa kendali, banyak juga mencari kebahagiaan dalam peperangan yang mampu melepaskan lengan dari tangannya, mengucurkan darah dari puluhan pembuluh darah yang di robek pedang, tombak ataupun mata panah agar nyata sumpahnya kepada Allah, mereka kebanyakan adalah rombongan Islam terdahulu dari para sahabat Rasulullah, ada kalanya bahagia hanya datang saat membaca ayat Alquran dengan suara kita sendiri, dan membaca maknanya seperti yang kita lakukan saat ini, maka bahagia itu sederhana sekali, tergantung kepada pilihan hati kita, tapi jangan biarkan hati kita 'brok' (atau buruk)." Lelaki itu menutup lipatan Alquran di depannya.

Yah, pelajaran yang sempurna di pelataran mesjid itu.

"Hei Dahanu, aku merasa bahagia di sini bersamamu sambil ditemani angin yang terus menerpa diri ini, bagaimana denganmu sobat?"

Dahanu melirik Dauni, ada senyum di ujung bibirnya. "Aku lebih bahagia saat-saat seperti ini Dauni, saat ada lelaki bersarung itu berada di pelataran mesjid dan mengajarkan ibu-ibu di sana akan makna Alquran dan aku mampu menatapnya seperti ini." Bisik lirih Dahanu di dalam hati tanpa gema bibirnya. Kata -kata itu terus tenggelam seiring hilangnya matahari ditelan suara azan maghrib.####
Share:

Friday, 28 October 2016

Hening (P8)



Detik berdentang lantang
Desah tegar menantang
Oh hati yang berpalung
Lubuk arusmu tak ku tau
Tersungkur diam mata meradang
Tatkala jiwa insan melanglang buana
Pasrah diharibaan kebesaranNya
Telinga yang sunyi dari gema
Cahaya nun jauh di bawah kakimu
Menanti tumpahan sinarnya di hening hati
Langsa, 21 Januari 2016
Share:

Total Pageviews

Popular Posts

Powered by Blogger.

Apakah blog ini bermanfaat?

Translate

Copyright © Ummi Waffa Dan Tulisan | Powered by Blogger

Design by ThemePacific | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com