Friday, 8 February 2019

Wahana naik turun bikin berkeringat bagi anak

Memanjat, terperosot sejauh enam meter dengan kemiringan sudut tertentu tak membuat mereka lelah. Sambil melompat-lompat mencoba menggapai langit, para anak kecil itu riang menikmati hidangan wahana ini.

Padahal hakikatnya permainan ini layaknya perosotan, tapi keberatan angin yang terus di jaga isinya melalui kompresor di bawahnya, maka kuantitas angin yang berada di dalam sana tak pernah kurang, sekalipun puluhan anak riang melompat di atasnya.

Untuk kota kecil yang di batasi dua buah tugu, fasilitas seperti ini sudah sangat memadai. Tidak perlu mahal untuk bisa menikmati senyum anak-anak, hanya sepuluh ribu untuk mandi keringat sepuasnya bisa didapat. Hal ini nggak jadi masalah, karena bagi orang tua yang menunggu anak bermain, bisa menikmati fenomena malam ditemani bandrek susu atau kacang hijau, serta sedikit nuansa kerja di meja alakadarnya.

Hmm, satu lagi! Saat orang tuanya duduk menanti anak bermain, ikhlaskan telinga untuk dimasuki musik khas anak-anak dari beberapa tempat lainnya yang memang tepat berada di sisi kiri dan kanannya. Anggap aja nuranimu tengah dibawa lari menikmati masa kecil dahulu 😅

Wahana ini adalah banyak dipilih oleh anak, walaupun ada beberapa yang sama tapi lebih kecil sedikit dan tersekat beberapa ruang, nggak tau ya, mungkin anak-anak pun memahami makna dari kesederhanaan, meski hanya sebuah wahana permainan.  😉

Share:

Saturday, 2 February 2019

Keadaan di dalam asrama haji saat jamaah pertama kali tiba di sana



Masing-masing jamaah ada waktu yang dijadwalkan harus masuk asrama, walaupun itu pukul tujuh maghrib. Disaat seperti itu, waktu shalat di jaga oleh masing-masing diri atau individu!

Iring-iringan bus pengantar calon jamaah haji telah memasuki pintu gerbang Asrama haji dan berhenti di depan sebuah ruangan aula. Terlihat para punumpang dari bus lain sudah berjalan memasuki aula sambil menggerek tas jinjing mereka masing-masing.
            “Yuk mak, kita sudah sampai!” saya berkata kepada mamak sambil membereskan barang-barang bawaan.
            “Udah masuk Asrama haji ini Da,” tanya mamak sambil mencoba bangkit dari duduknya.
            “Udah mak,” jawab saya sambil mengangkat dua buah tas jinjing dari bawah kursi dan meletakkannya di tengah lorong bus. “Sebentar ya mak, mamak tunggu di sini, Ida turunkan tas kita dulu,” kata saya dan bergegas menurunkan kedua tas dari bus.
            Setelah meletakkan tas, kembali saya menaiki bus dan telah mendapati mamak berada di muka pintu masuk yang berjalan tertatih sambil memegangi daun pintu bus.
            “Pelan-pelan buk!” kata seorang calon jamaah lain yang tadi berada di kursi belakang bus dimana mamak duduk. Mamak tersenyum dan mencoba mengangkat turun kakinya dengan susah payah.
            “Kemana kita Da?” tanya mamak sambil terus memegang dengan kuat lengan kiri saya.
            “Ikuti jamaah lain mak, mereka masuk aula disana,” jawab saya dengan anggukan yang sudah pasti tidak bisa ditangkap oleh mata mamak lagi. Langkah mamak tertatih mengikuti saya yang menggerek dua tas jinjing di dua tangan saya kiri dan kanan. Asrama haji saat ini terlihat penuh dengan orang-orang dengan kesibukan masing-masing, dalam hati saya membatin, ”Perjalanan saya baru akan di mulai.”
***
            Ruangan aula riuh rendah dengan suara disana sini. Saya masih terpaku didepan pintu dan tidak tau harus berjalan kekiri, kanan atau lurus kedepan. Banyak peserta yang menggunakan seragam batik senada seperti yang saya dan mamak gunakan, akan tetapi atribut lain, seperti kachu yang tersimpul di leher masing-masing peserta ada beberapa warna berbeda dari warna yang saya kenakan. Dengan langkah pasti saya maju kedepan mendekati sebuah kursi yang masih kosong dan berbaur dengan jamaah dengan warna kachu yang senada, yaitu oranye.
            Didepan terlihat seorang panitia yang memegang mikrofon dan berbicara sambil beberapa kali mengucapkan selamat datang kepada peserta calon jamaah haji.
            “Bapak Ibu para tamu yang dirahmati Allah, untuk menghindari ketidakterarutan mohon Bapak Ibu duduk pada tempat yang telah ditentukan sesuai dengan nomor yang tertera di tas dada masing-masing. Dan kami harapkan kepada petugas masing-masing daerah agar berperan aktif membantu para jamaah menemukan tempat duduknya, terima kasih!”
            Mendengar apa yang baru disampaikan saya segera bangkit dan berjalan melihat keberadaan nomor kursi 313 dan 314 yang menjadi tempat duduk mamak dan saya. Setelah menemukan kursi tersebut, kembali saya menuntun mamak untuk pindah.
            Dari kursi yang baru saya tempati ada rasa terasing dari seluruh jamaah yang berasal dari kota Langsa. Jika tadi saya berada dalam bus yang sama, rombongan yang sama, dan pada peserta manasik haji yang sama, sekarang perbedaan itu sangat terlihat. Mungkin hal inilah yang dikhawatirkan oleh Pak Is beberapa waktu yang lalu. Saat ini baru terlihat bahwa regu kami memang benar-benar terpisah dari rombongan kota Langsa. Jamaah calon haji Aceh timur dan Aceh Besar telah membatasinya.
            Sekilas saya berpaling memperhatikan jamaah yang akan menjadi teman dalam satu regu dengan warna kachu yang sama, terdapat tiga wajah yang telah saya kenal saat terakhir kegiatan pesijuk dan pemantapan gabungan dahulu, dan selebihnya adalah wajah baru yang mungkin saya belum mengenal mereka demikian juga dengan mereka. Dan rasa senang sedikit saya rasakan kembali karena pada rombongan jamaah yang berasal dari Aceh Besar ada sepasang suami istri yang masih kerabat dekat dari suami saya dari pihak ayahnya. Setelah menyapanya, saya pun bergegas duduk.
Kembali saya berpaling pada barisan belakang, peserta jamaah dengan kachu kuning berasal dari Aceh Tamiang telah memenuhi hampir seluruh kursi yang tersedia. Saya mencoba tetap tenang dan terus berdoa di hati ini,’Ya Allah mudahkanlah urusan saya ini dan jadikan mereka semua teman saya dalam perjalanan untuk beribadah kepadaMu.’
***
            Malam ini ada beberapa agenda yang harus diselesaikan, antara lain pemantapan kembali, cek kesehatan, pembagian uang living cost dan hal lain yang dianggap perlu.
            Setelah mengikuti berbagai kegiatan secara bersabar, maka sekarang giliran nomor urut saya dan mamak mengantri untuk melakukan penimbangan koper agar segera di kemas oleh pihak penerbangan. Alhamdulillah, koper saya dan mamak tidak bermasalah dan kami diperbolehkan menuju gedung istirahat pada malam ini sebelum besok akan bersiap-siap untuk berangkat pada pukul empat sore.
            “Kakak di lantai tiga ya, karena masih muda dan sehat,” kata seorang petugas wanita yang bertugas membagikan kunci kamar tempat kami menginap.
            Saya menatap mamak sesaat, “Saya tidak bisa jauh dari mamak kak, nanti darah tinggi mamak jadi naik lagi karena cemas saya nggak ada dekat sama beliau.”
            “Iya dek, Saya pun nggak sanggup kalau naik tangga terlalu tinggi,” kata mamak menyakinkan petugas yang masih memandang temannya satu dengan lainnya.
            “Tapi kak, di bawah khusus kamar untuk para jamaah yang lansia dan kurang sehat.”
            “Kami kan bawa orang tua lansia lho dek, ini mamak saya juga kurang sehat, kalau bisa dijadikan dalam satu kamar kan tidak masalah,” Buk Tuti yang beriringan di belakang saya dan mamak angkat bicara didepan petugas yang masih bingung dalam menentukan sikap mereka. Hal tersebut wajar saja apabila mereka merasa tidak mudah dalam menentukan sikap, disatu sisi mereka melihat saya dan Buk Tuti sebagai jamaah yang sehat dan harus menempati lantai dua dan tiga terlebih dahulu seperti jamaah lain, akan tetapi keadaan saya dan Buk Tuti yang berperan sebagai pendamping menjadikan kami juga mendapat rahmat karena mendapatkan fasilitas yang memudahkan kami menuntun orang tua masing-masing. Akhirnya sebuah kamar di lantai dasar yang memiliki enam buah ranjang menjadi tempat kami melepaskan lelah malam ini.
***
Setelah menyegarkan diri, kami segera melangkahkan kaki menuju ruang makan. Ruang makan masih terlihat penuh dengan para jamaah yang duduk pada kursi yang tersusun rapi. Perempuan dan laki-laki terpisah pada jalur yang telah diatur oleh panitia. Setelah duduk sejenak, saya dan mamak berencana kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Udah cek kesehatan Dek?” tanya seorang jamaah yang melintas berlawanan arah dari saya dan mamak.
“Belum Buk, dimana ruang untuk cek kesehatannya.”
“Pergi cek terus aja Dek, mumpung lagi sepi antriannya, nanti lama kali siapnya kalau udah ramai peserta.
Saya melihat mamak dan meraih handphone untuk melihat waktu disana. Tertera jam sebelas malam pada layarnya.
“Kita cek kesehatan dulu ya mak, kalau ditunggu nanti lagi kita telat kali istirahatnya, sekarang aja kita cek kesehatan setelah itu bisa istirahat terus,” kata saya kepada mamak sambil berjalan menuju ruangan yang dijelaskan Ibu tadi.
Ruangan di dalam terlihat sibuk. Beberapa tirai pasien layaknya rumah sakit telah tersedia disana dan beberapa petugas terlihat sedang menangani pasien dalam keadaan terbaring diatas ranjang. Kembali saya mendapatkan kemudahan dalam mengantri, petugas yang menjaga pintu mengutamakan para orang tua lansia yang terlebih dahulu untuk masuk kedalam ruangan. Sehingga setelah mamak masuk kedalam dan menempati tempat duduk antrian untuk selanjutnya menuju meja pemeriksaan, saya juga diperkenankan masuk untuk menemani beliau. Karena walaupun mamak tetap menggunakan tas dada yang berisi segala keperluan beliau, seperti paspor, buku kesehatan dan obat, akan tetapi kondisi beliau dan kehadiran saya yang dimudahkan Allah sebagai pendamping keberangkatan haji beliau, menjadikan saya menanamkan keyakinan bahwa, keberangkatan saya memang dipersiapkan untuk menemani mamak, dan saya akan berusaha untuk menemani dengan ikhlas.
Pemeriksaan dilakukan dengan teliti oleh para petugas. Setelah mamak selesai, sebuah gelang merah sebagai tanda sudah beliau kenakan. Sedangkan saya harus menjalani cek kehamilan lagi. Terbayang diingatan saya beberapa saat yang lalu, akan perkataan seorang petugas yang memeriksa mamak, bahwa kehamilan dapat menyebabkan gagalnya keberangkatan dari calon jamaah haji, akan tetapi untuk saat ini kekhawatiran saya tidak ada, disebabkan saat ini saya dalam keadaan haid. Setidaknya hal tersebut dapat melapangkan dada saya untuk tenang.
Pukul dua malam saya dan mamak baru bisa berjalan keluar dari ruang cek kesehatan melalui pintu lainnya. Di depan pintu antrian, masih terlihat jamaah yang berdiri menunggu giliran untuk bisa masuk ke dalam ruangan. Bintang di langit kota Banda Aceh berkelip indah di atas sana. ‘Masih tersisa beberapa jam lagi untuk beristirahat,’ bisik saya dalam hati.
***
Ruangan aula kembali ramai. Selepas shalat Dzuhur, seluruh jamaah harus sudah berada di dalam aula dengan membawa tas jinjing beserta tas dada yang akan menjalani pemeriksaan pihak penerbangan.
Bersamaan dengan pembagian uang living cost, secara berurutan para jamaah memasuki kendaraan yang akan membawa kami menuju bandara Sultan Iskandar Muda.
Handphone ditangan saya menunjukkan pukul empat sore. Sebuah pesan baru saja masuk ketika saya hendak menyimpannya.
“Jam berapa penerbangannya Dek!”
“Kata panitia jam tujuh malam bang,” saya membalas pesan yang baru saja dikirimkan oleh suami saya.
“Kami nunggu di bandara aja ya!” balas suami saya.
            “Iya!” jawab saya. Sambil menutup lipatan handphone kembali bayangan suami saya dan Waffa bermain di ingatan. Teringat saat-saat menyenangkan dalam membesarkan Waffa dengan segala tingkah kecilnya. Terlintas kembali keadaan, dimana terlalu banyak kesenangan dan rasa nyaman yang telah diberikan suami saya selama menemani kehidupan bersama sepanjang tahun pernikahan. Kembali tetes air mata menemani ingatan-ingatan tersebut.
            Nomor antrian dari kota Langsa sudah dari tadi berlalu diikuti oleh Aceh Timur dan sekarang jamaah dari Aceh Besar sedang bersiap-siap. Pak Is sudah berdiri dan membentuk barisan dibelakang nomor terakhir dari Aceh Besar. Melihat hal tersebut, saya juga segera bersiap dan membereskan tas jinjing saya dan mamak.
            Setelah seluruh jamaah masuk ke dalam kendaraan yang akan membawa kami ke bandara, pintu gerbang Asrama haji kembali dibuka dan beriringan kendaraan membawa kami menyusuri jalan kota Banda Aceh.
            “Kak Asni ikut juga ke bandara Da?” tanya mamak.
            “Tadi katanya iya mak, Bang Mul sama Bang Zakir juga nunggu.”
            “Tapi mana nampak lagi ya, karena kita udah di dalam mobil, atau mungkin nanti ada di beri kesempatan lagi untuk kita jumpa sama keluarga Da!” mamak berkata antusias sambil meluruskan pandangannya.
            “Mana ada waktu lagi mak, ini aja udah jam enam, katanya pesawat berangkat jam tujuh. Mamak nggak ingat, di asrama haji aja kita nggak boleh keluar lagi walaupun untuk jumpa saudara dari balik pagar, apalagi ini! Jadwal berangkat hanya tinggal sebentar lagi, mana mau panitia ambil resiko ada jamaah yang hilang atau entah kemana perginya, bisa nggak jadi berangkat pesawatnya!”
            Mamak hanya mengangguk kecil sebagai isyarat membenarkan apa yang baru saja saya jelaskan.


            Laju kendaraan yang kami tumpangi melaju dijalan aspal hitam melewati persimpangan Aceh Besar dan terus bergerak. Matahari jingga menghiasi langit di ufuk Barat. Kilau sinarnya menyentuh bening permukaan embun di rumput pematang sawah disepanjang kiri dan kanan desa yang kami lalui.

            Sesaat laju kendaraan berkurang dan kamipun berjalan melambat. Saya mendongakkan wajah kearah jendela. Terlihat orang-orang berjajar di pinggir jalan sambil melambaikan tangan mereka. Bola mata saya bergerak cepat berusaha menangkap bayangan Kak Asni, bang Mul dan suami saya. Pintu gerbang bandara masih beberapa meter di depan sana, akan tetapi kendaraan yang lebih dahulu tiba telah berbaris di depannya.
            “Kami di bus nomor delapan,” pesan singkat segera saya kirimkan ke beberapa nomor handphone guna memudahkan mereka untuk fokus melihat kendaraan dimana saya dan mamak ada di dalamnya.
            Mata saya kembali mencari sosok Kak Asni, bang Mul dan suami diantara mereka yang berbaris di pinggir jalan dan duduk di bangku yang tersedia di bawah pepohonan. Akhirnya saya melihat baju koko biru yang saya kenal dan dipakai oleh seorang anak kecil dengan tubuh yang sehat, ‘Waffa’ bisik saya lirih.
“Itu mereka mak!” kata saya kepada mamak.
Terlihat mamak tersenyum senang, “Ada Waffa?” katanya kemudian dengan mata berkaca-kaca.
“Ada! Lagi di pangku sama bang Zakir, Kak Asni dan anak-anaknya ada juga, anak-anak Bang Mul juga ada,” jawab saya gembira.
Laju kendaraan masih lambat menunggu kepastian dari kendaraan yang paling depan untuk melaju. Saya berjalan kearah depan dan berdiri di dekat pintu pada sisi kiri dari pak supir. Sambil menatap mereka semua saya melambaikan tangan dengan rasa yang bercampur aduk. Senang, haru, gembira dan harapan semua menyatu dalam kata-kata yang tidak dapat diuraikan.
***
Burung besi itu terlihat gagah. Warna tubuhnya yang putih dan ekor berwarna biru sangat menyatu dengan kawanan awan putih di latar belakang langit yang biru senja ini. Pada badannya terukir satu nama disana Garuda Indonesia.

 Saya dan mamak tersenyum saat beberapa kali blitz kamera dari handphone pintar saya berpendar. Masih terbayang para jamaah dari kota Langsa yang berada jauh di depan sana, akan tetapi segera saya menghapus segala perasaan yang akan menghalangi saya untuk beribadah secara baik di hati ini. Melihat wajah-wajah baru yang masih berdiri berusaha memasukkan tas jinjing mereka ke dalam bagasi di atas tempat duduknya, saya tersenyum dan segera mengalihkan pandangan pada jendela pesawat.
“Ini bagaimana Da?” tanya mamak sambil memegang sebuah tempat di depan beliau yang disediakan sebagai tempat untuk makan nanti.
“Ini begini nek!” jawab Raihan yang berada di samping mamak sambil memutar pengait pada bagian atasnya.
“O, maklumlah! Nenek nggak tau,” jawab mamak yang dibalas dengan senyuman.
Saya juga tersenyum menyaksikan hal tersebut. Ini adalah kali pertama mamak naik pesawat terbang. Perasaan khawatir sangat tampak pada wajahnya. Akan tetapi saya sering mengalihkan perasaan khawatir beliau menjadi hal-hal yang boleh dianggap itu adalah hal biasa dengan harapan tingkat kecemasan mamak akan turun terhadap hal yang dikhawatirkan tersebut. Dengan kata lain saya harus tetap selalu tegar dengan mengesampingkan hal-hal yang membuat saya lemah, terlebih lagi pada perjalanan kali ini.
“Ada takut mak!” tanya saya sambil tertawa. Mamak hanya tersenyum kecut. Kedua tangannya mencengkeram erat penyandar di bawah lengannya. Tidak banyak lagi kata-kata yang keluar dari bibirnya. Hal itu wajar, mungkin beliau sedang mempersiapkan diri dengan hati yang terus berdzikir kepada Allah.


Tempat duduk kami yang berada tidak jauh dari bagian ekor pesawat menambah jelas deru mesin yang mengaung-ngaung. Perlahan saya rasakan pesawat mulai bergerak maju dan berputar kemudian lurus kembali. Pesawat yang sebelumnya riuh rendah dengan suara, kini terasa sepi. Layar monitor di depan saya mencoba melalaikan dengan bacaan doa-doa perjalanan. Seiring dengan hilangnya pengaruh gravitasi pada badan pesawat, kekuatan dorongan membawa kami meloncat dan terbang menembus langit yang mulai gelap. Saya menggenggam jemari kanan mamak yang terasa semakin kuat cengkeramannya, memandang wajahnya sekilas dan kembali menyibukkan hati dengan doa-doa.
***
Share:

Kiat mengeraskan hati sebagai istri dan emak dari buah hati


Pertama: serahkan segala perkaramu kepada Allah saja, jangan pake orang kedua, ketiga bahkan keempat;

Kedua: pakai kaos kaki dan sepatumu, bismillah, berangkatlah!😎


              Selepas shubuh pada hari selasa tanggal enam Dzulqaidah, bertepatan dengan sembilan Agustus, saya beserta suami dan Waffa meluncur ke rumah mamak.
            Mamak baru saja selesai shalat manakala saya masuk ke dalam rumah dan menyapanya dengan salam. Semua keperluan saya dan mamak selama pergi sudah saya lengkapi didalam tas koper dan dikembalikan kepada panitia sehari sebelum keberangkatan, jadi hanya tas jinjing yang berisikan keperluan untuk semalam saja ada bersama kami.
            Setelah selesai bersiap-siap, Kak Ita yang dari tadi membantu mamak segera memeluk dan menciumi mamak untuk yang kesekian kalinya. Derai air mata membasahi pipinya.
            “Jaga mamak ya Ida,” Katanya berlinang air mata sambil menatap saya yang tak kalah menumpahkan air mata, “Kakak yakin Ida bisa!” katanya sambil memeluk saya yang hanya mampu membalas dengan anggukan.     
            Lirih doa-doa terlintas dalam hati segera saya panjatkan untuk semua yang saya dan mamak akan tinggalkan pada hari ini, kakak saya beserta anak-anaknya, abang beserta keluarganya, adek-adek dan suami serta anak saya yang pada hari ini harus saya ikhlaskan untuk ditinggalkan.
            Sambil bergegas menuju tempat berkumpul yang telah dijanjikan, maka seluruh anggota keluarga turut mengantarkan kepergian kami.
***
Sebuah lapangan yang berada di tengah kota sudah dipenuhi orang-orang yang turut mengantarkan para calon jamaah haji. Terlebih lagi kloter ini adalah kelompok pertama dari gelombang pertama yang akan berangkat menunaikan ibadah haji, sehingga seremonial pelepasan dilaksanakan dengan sangat menyentuh hati.
“Mana mereka Da?” tanya  mamak yang telah duduk di salah satu kursi Bus dengan saya disampingnya.
Saya melambaikan tangan kepada para keluarga yang telah berdiri disisi kaca tempat mamak duduk, “Itu mak!” jawab saya sambil sedikit memalingkan wajah beliau.
Mamak kemudian tersenyum, dan berkata, “Nggak nampak mamak, Da!”
Terdengar desahan kecil mamak. Saya menahan sesak yang menghimpit dada dan mencium pipinya dengan lembut. Setelah itu saya kembali melambaikan tangan kepada orang-orang terkasih yang telah Allah titipkan kepada saya, dari Kak Ita, Bang Mul, Adek kembar dan si buah hati Waffa yang terdiam disisi suami saya seraya menatap bus bergerak perlahan. Seiring salawat badar yang dikumandangkan para pengantar jamaah, kembali tertanam di hati saya, ‘Ya Allah, mudahkanlah urusanku dalam perjalanan ini.’
***
Laju iring-iringan bus pengantar calon jamaah haji meluncur bebas hambatan di jalan raya sepanjang Langsa-Banda Aceh. Keberadaan pihak keamanan didepan rombongan menjadikan perjalanan ini tidak terkendala.
Sepanjang perjalanan, terlihat banyak orang yang berdiri dan melambaikan tangannya ke arah bus calon jamaah haji. Terbayang bertahun-tahun yang lalu saat saya juga termasuk kedalam golongan orang yang berdiri melambaikan tangan kepada jamaah yang akan menunaikan ibadah haji, terlintas harapan pada diri saya kepada Allah untuk segera menggabungkan diri saya kedalam golongan orang-orang yang berada di dalam bus sana, dan dengan izin Allah saat ini saya telah ada di dalam bus yang akan mengantarkan saya menunaikan ibadah haji, bahkan ditambah kehadiran mamak di samping saya.
Sekilas saya memandangi wajah mamak yang tertidur pulas lalu mengambil handphone yang berbunyi. Sebuah pesan masuk dari Kak Asni, “Sudah sampai dimana Ida?”
Saya pun melirik jalan raya dan mencoba memastikan keberadaan saya saat ini dan membalas pesan yang masuk, “Seulimeum kak!”
“Ada waktu untuk jumpa nggak? Atau langsung masuk Asrama haji?”
“Belum tau, nanti Ida sms lagi kalau udah ada khabar,” jawab saya.
Kak Asni berhenti dari membalas pesan saya. Selepas acara pesijuk dirumah saya dan mamak beberapa hari yang lalu, Kak Asni kembali ke Banda Aceh dan berjanji menunggu kami di sana saja. Karena seluruh calon jamaah haji dari empat kabupaten kota akan berkumpul di Asrama haji sebelum bertolak ke Arab Saudi.
Sedangkan yang turut mengantarkan saya dan mamak dari Langsa sambil mengiringi bus adalah suami saya beserta Waffa dan seorang saudara dekat. Bang Mul beserta keluarganya akan menyusul malam harinya.
Bus tetap melaju dengan kencang. Setelah beberapa waktu lalu mendapatkan informasi dari panitia yang bertugas pada bus dimana saya berada, maka saya kembali mengirimkan pesan kepada Kak Asni dan juga suami saya, “Kata panitia kami akan berhenti dan singgah di Mesjid Lampineung samping kantor Gubernur sebelum masuk asrama, artinya masih bisa berjumpa disana.”
***
Pukul lima sore terhitung rombongan bus kami memasuki kota Banda Aceh. Terlihat kemacetan yang panjang manakala bus pengantar calon jamaah haji berbaris dengan kendaraan lain di badan-badan jalan.
“Mak, turun dulu yuk!” pinta saya pada mamak setelah bus terparkir dan hampir seluruh jamaah turun dari bus.
“Kemana kita? Apa udah sampai?” balas mamak sambil kebingungan.
“Kita udah sampai di Banda Aceh, tapi jam tujuh malam nanti batu kita diperbolehkan masuk Asrama haji, jadi masih ada waktu untuk istirahat di sini, Kak As juga udah menunggu kita di sana!” jawab saya menyakinkan mamak.
Banyak pengantar calon jamaah haji lain juga datang untuk menemui keluarga dan karib kerabat mereka. Banyak rasa yang dicurahkan dari mereka yang akan berangkat dan juga mereka yang akan ditinggalkan. Saya memperhatikan pemandangan demikian dengan perasaan yang tidak menentu.
Sambil terus menuntun langkah mamak menuju sebuah kantin untuk beristirahat. Saya kembali merasakan kebersamaan terakhir bersama orang-orang yang saya cintai sambil menikmati masakan Kak Asni yang disuguhkan kepada saya dan mamak.
***
Ternyata perjalanan waktu terasa begitu singkat apabila kita sedang dihadapkan kepada sebuah pekerjaan. Kembali panitia mengumumkan bahwa para calon jamaah haji diminta untuk kembali menaiki busnya masing-masing agar dapat memasuki Asrama Haji tepat waktu.
“Sampaikan salam saya kepada Rasulullah,” pesan suami saya.
Sambil terus berusaha tegar, saya kembali menggenggam jemari suami saya dan menciumnya. Berdiri sejajar memandangi wajahnya membuat hati saya bergejolak, kembali saya memeluknya dan membisikkan kata,”Terima kasih telah menemani saya selama ini dan memberi kesempatan kepada saya untuk menjadi seorang istri.”
Tangisan saya kembali pecah, terlintas masa di awal berumah tangga saat belum hadirnya Waffa di tengah-tengah kami yang berbilang tahun, suami saya tetap setia mendampingi sepanjang perjalanan walaupun beragam dorongan untuk mencari pendamping hidup yang lain selalu berdatangan dari beberapa pihak, akan tetapi jalan tersebut tidak di tempuh olehnya.
Dengan lembut suami saya menepuk-nepuk pundak saya. Tidak ada kata yang beliau ucapkan selain menyunggingkan senyuman yang menjadi ciri khasnya. Walau saya rasa perang batin juga berkecamuk di dalam diri suami saya, akan tetapi kebesaran jiwanya tidak menunjukkan sedikitpun tanda-tanda demikian diwajahnya.
Dari dalam bus yang terus melaju membawa saya dan mamak, saya melambaikan tangan kepada mereka dengan air mata yang terus berderai.
Share:

Thursday, 31 January 2019


Apa kabar semua!

Udah lama bener nggak ngisi lagi rumahku yang satu ini 😊
Sibuk dikit wara wiri di laman orang 😋

Kali ini aku ingin berbagi kisah yang semoga bisa di ambil manfaatnya bagi siapapun yang membaca.

Kisah tentang perjalanan haji bersama orang tuaku, mamak!
Semoga betah ikutin kisahnya ya...



Puji syukur yang tidak terhingga pada Allah Sang Maha Esa atas segala anugerah di dalam kehidupan ini. Selawat berangkai salam pada Rasulullah, nabi akhir zaman, beserta keluarga dan sahabat serta aulia Allah yang mengikuti cahaya Islam hingga  dunia berakhir.

Bukan menjadi suatu mimpi, saat saya harus dihadapkan pada sebuah kenyataan bahwa Allah masih memberi saya kesempatan untuk dapat kembali ke tanah air bersama dengan orang tua (Mamak) setelah melaksanakan haji dan umrah pada tahun 2016. Karena sebelum keberangkatan, saya telah mengikhlaskan diri ini apabila dapat tinggal di dua kota suci itu walaupun hakikatnya tidak lagi bernyawa.

Memiliki kenangan dalam melaksanakan ibadah haji menjadikan relung hati saya bercahaya dan selalu mengingatnya serta berbagi cerita kepada mereka yang bertanya. Akan tetapi, manakala saya teringat akan sebuah goresan “Yang terucap akan lenyap, yang tertulis akan abadi”, maka hati saya kembali bimbang, apakah tetap menyimpan kenangan ini untuk sendiri atau akan saya bagikan kepada orang lain? Dan, dari sinilah keberanian itu muncul.

Butuh keyakinan besar untuk saya mulai menuliskan paragraf demi paragraf. Perasaan was-was selalu muncul manakala saya telah menata kalimat yang akan saya goreskan di depan komputer, rasa takut kalau-kalau tulisan ini nanti terkesan menggurui, atau apalah yang menjadikan niat itu padam dan saya kembali membiarkan halaman yang telah terbuka dalam keadaan mandul. Hingga akhirnya setelah meminta restu dan doa dari Mamak atas apa yang ingin saya lakukan, pada tanggal sembilan maret, empat bulan setelah kepulangan dari perjalanan haji itu, maka saya memulai dan terus menulis hingga tulisan itu rampung di bulan yang sama pada tahun berikutnya.

Maka... 

Setelah tulisan itu sudah terkumpul dalam naskah yang lumayan tebal, akupun mendatangi ketua kloter dan memberikan naskah itu kepada beliau.
Wah, naskah setebal 360 lembar itu langsung dapat tanggapan luar biasa, jauh dari bayangan diri ini. Tidak sampai dua bulan, beliau kemudian menyerahkan tulisan ini untuk melengkapi bukuku.


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji beserta syukur sama-sama kita panjatkan ke hadirat Allah swt. yang masih memberikan kita nikmat sehat dan nikmat Islam, sehingga kita masih bisa beraktivitas sebagaimana biasanya, sementara di sisi lain banyak saudara-saudara kita yang masih tergeletak tidak berdaya karena sakitnya. Selawat beriring salam tidak jemu-jemunya kita sanjung sajikan ke pangkuan baginda Rasulullah SAW, seorang tokoh reformis dunia dan juga pemimpin umat yang telah memperjuangkan agama Allah (Islam) tegak di muka bumi ini.

Naskah sebanyak 360 halaman lebih ini yang telah ditulis oleh Ibu Hj. Safrida Lubis, S. Pd. layak untuk dijadikan bacaan dan referensi bagi kita semua khususnya kaum hawa yang ingin mendarmabaktikan kasih sayang kepada ibunda tercinta, orang yang dengan susah payah mengandung kita, mempertaruhkan nyawa demi menghadirkan kita ke dunia yang fana ini, serta membesarkan dan mendidik kita untuk menjadi anak yang berguna bagi keluarga, agama dan bangsa. Bacaan ini disajikan walaupun tidak terperinci, akan tetapi sudah mewakili dari kondisi yang sebenarnya dari perjalanan penulis dan kita diajak ikut bersamanya.

Tulisan ini disajikan dengan bumbu-bumbu perasaan dan kasih sayang seorang anak kepada ibu kandungnya yang membawa pembaca seolah-olah berada atau ikut merasakan dan terbawa dalam kondisi atau keadaan yang dialami penulis. Kita paham bahwa perjuangan penulis tidaklah semudah membalikkan telapak tangan dan tidak semudah lidah berucap, akan tetapi dimulai dari pergumulan hati yang membuatnya harus memilih salah satu di antara banyak pilihan. Siapa, sih, yang tidak ingin sebagai seorang anak dapat melihat bahkan mendampingi orang tuanya menunaikan rukun Islam yang kelima (haji)? Namun, hal ini bagi penulis tidaklah mulus dalam perjalanannya. Ketidakmampuan keuangan menjadi salah satu kendala, belum lagi kabar duka yang meliputi keluarga dengan meninggalnya orang-orang tercinta. Usaha untuk mengumpulkan sepeser rupiah terus dilakukan dengan harapan dapat berangkat bersama suami tercinta dan ibunda tersayang lagi-lagi dihadapkan pada kenyataan lainnya, bahwa orang yang akan didampingi hajinya yaitu ibunda suami lebih dahulu menghadap sang khalik.

Ketika kesedihan sedikit demi sedikit menghilang, dan Allah memanggil penulis untuk berhaji dengan cara-Nya sendiri (pendamping lansia), lagi-lagi penulis dihadapkan kepada dua pilihan antara investasi akhirat (haji) dan investasi dunia (sertifikasi guru) karena penulis merupakan salah seorang tenaga pengajar pada salah satu sekolah lanjutan menengah atas yang ada di Kota Langsa, di mana sertifikasi guru merupakan keharusan dalam mengajar dan lagi-lagi keputusan bisa di ambil walaupun terasa berat. Dan, cobaan yang terberat adalah ketika penulis dihadapkan kembali kepada dua pilihan, yaitu memilih antara meninggalkan anak kandungnya atau menemani ibu kandungnya. Kedua pilihan tersebut Bukanlah pilihan yang mudah, karena selama ini sang buah hati adalah impian dan doa yang terus dipanjatkan setelah hampir satu dasawarsa menjalin rumah tangga dengan suami tercinta, tapi belum memiliki anak. Ya! Buah hati itu bernama Waffa, sehingga menimbulkan sisi-sisi lain yang terungkap dalam bacaan ini.

Kami sendiri selaku petugas haji yang diberi amanah oleh Pemerintah Republik Indonesia, dalam hal ini Kementerian Agama (Ketua Kloter 1 BTJ Aceh tahun 2016) merasa terharu dan simpati atas kisah penulis yang disimpan dalam catatan-catatan kecil dan telah dirangkum dalam suatu buku/bacaan. Kisah yang disajikan ini dimulai dari prakeberangkatan haji, proses perjalanan haji dan pascahaji sampai dengan ibunda tercintanya menghadap Sang Ilahi tidak berapa lama dari pasca kepulangan haji.

Semuanya ini tidak pernah terlintas dan terpikirkan di benak kami sedikit pun, bahwa seorang jamaah haji kami akan menuliskannya secara lengkap. Karena kami melihat sisi ganda penulis, selain memang dianya seorang jurnalis, dia juga jamaah haji double (pendamping lansia), di kesehariannya juga merupakan seorang guru yang bertanggung jawab terhadap siswa didiknya, sedangkan di rumah dia juga sebagai ibu rumah tangga yang mengelola rumah tangga dan melayani suaminya serta seorang ibu bagi si kecil Waffa yang sudah bertahun-tahun diidam-idamkan kehadirannya, dan yang tidak kalah pentingnya adalah penulis juga sorang anak dari seorang ibu yang sudah lansia yang sangat membutuhkan bantuan dari anaknya. Ibu inilah yang menjadi titik awal motivasinya dalam bergelut dengan berbagai masalah yang timbul dalam pengambilan keputusan. Dan, satu hal yang membuat penulis selalu terbantu setiap menghadapi masalah yaitu dengan senantiasa berdoa kepada Allah tidak bosan-bosannya serta memperbanyak zikir “Subhanaka inni kuntum Minal Dzalimin” dan permohonan “Ya Allah mudahkanlah urusanku dan jauhkanlah kesusahan dariku”.

Akhir kata, mudah-mudahan buku ini bermanfaat bagi kita semua dan Allah memberikan kemudahan kepada kita, agar kita dapat mencurahkan kasih sayang kepada kedua orang tua selagi mereka masih hidup. Mari bahagiakan mereka, karena ketika mereka telah tiada semua itu tidak ada artinya.

Wassalam.

Nah... sebenarnya tentang apa sih buku itu?
Ini dia jawabannya 😃


Apa jadinya jika pendamping haji bagi jemaah usia lanjut adalah seorang perempuan? Perempuan yang kekuatannya tidak seberapa bila dibandingkan kaum laki-laki. Sebagai seorang pendamping haji usia lanjut, jika masih muda, maka tidak boleh dalam keadaan hamil saat keberangkatan, mengikuti kegiatan manasik, akan tetapi namanya masih dalam arti diusulkan, tidak ada dalam daftar jemaah terpanggil dan selalu dibayang-bayangi dengan kegagalan berangkat karena visa perjalanan yang tidak jelas. Itulah sedikit kesan yang saya rasakan sebagai pendamping bagi mamak saya yang tercatat usia lansia dalam menunaikan haji. Belum lagi, saya harus berlapang dada jika harus tercampak dari daerah sendiri dan masuk dalam rombongan daerah lain.

Suka duka pengalaman dalam berhaji sebagai pendamping usia lansia mengenalkan saya kepada tokoh pendamping lain di regu sesama lansia, sehingga walau hakikatnya terasing, semua itu mengajarkan kami ketegaran.

Saya tidak sedang menggurui siapa pun tentang sebuah perjalanan ibadah haji. Akan tetapi melalui sekelumit dari kisah nyata yang saya ceritakan dalam buku ini, paling tidak memberikan referensi cerita bagi mereka yang rindu akan dua kota suci itu untuk beribadah umrah maupun haji. Irama perjalanan saya dengan segala kesenangan dan kesedihan yang menimbulkan rasa suka duka beragam, ketakutan di pekuburan Baqi’ di Madinah saat berjalan seorang diri, hingga dihadapkan pada suasana mencekam di sebuah lantai restoran hotel berbintang saya ceritakan di sini.

Perjalanan saat di tanah Mekah sampai pada musim haji, merupakan rangkaian kisah saya dengan beragam rasa yang timbul. Saat harus menjadi pendorong kursi roda sambil melaksanakan tawaf dan sai, tersesat di Masjidil Haram yang sangat luas tempatnya dan terjebak di lantai dapur hotel oleh teguran Allah karena saya melupakan bahwa Mekah adalah tanah haram, berusaha saya ceritakan seadanya. Penggalan cerita saat menikmati hujan yang mengguyur kota Mekah kala itu, sampai perjalanan ARMINA yang menyisakan secuil tragedi Arafah di dalam ingatan juga mewarnai kisah saya pada perjalanan ini. Sampai pada langkah-langkah perjalanan di hari tasriq hingga mengantarkan saya untuk menuliskan sepenggal tawaf ifadhah dan detik-detik saya dapat mencium Hajar Aswad sebagai sebuah cerita yang ingin saya bagikan.

Terakhir, saya ingin berbagi di dalam catatan perjalanan ini sebagai pendamping dari jemaah usia lansia adalah bahwa kekuatan yang sungguh besar manfaatnya adalah kekuatan Allah semata. Terlebih lagi dalam perjalanan ibadah haji dan umrah, doa adalah jalan kita untuk memohon pertolongan-Nya. Hanya kepada Allah saya pasrahkan segalanya, tentang keikhlasan niat saya dalam menyampaikan, juga manfaat yang diperoleh. Kepada pembaca, terima kasih telah membaca kisah ini.

Oke, udahan dulu... Ikuti kisahnya jika ya. 👌
Share:

Monday, 28 November 2016

4 sungai SAMA di Surga

Sore itu pengajian bersama ketua MUI Aceh digelar tiap sabtu di penghujung bulan.

Tahukah kita? Ulama kharismatik di zaman sekarang ini tinggal hitungan jari saja. Sosok di hadapan majelis ini salah satu dari isi jari-jari itu.

Terlintas perjalanan barat selatan beberapa waktu lalu. Pantai penyimpan arus turbulen terbanyak ini membentang sepanjang perjalanan.
Di pastikan untuk pelaut yang dangkal ilmu, tidak akan berlayar tanpa teman sejawat.
Siapapun yang tertelan ombaknya, kecil kemungkinan untuk bisa bernafas saat ditemukan, laut itu tenang, sangat tenang bahkan, tetapi kegadisannya sangat origin. Di bibir pantainya banyak terdapat pertemuan ombak yang tak terhitung jumlahnya.

Sekilas terngiang suara merdu seorang sahabat. Menanyakan pernah tau atau tidak tentang lautan di Surga kelak?

Pikiran ini mencoba terbang pada lembaran makna dalam Alquran, hasilnya tidak pernah kutemui ada kata lautan untuk hal yang berkaitan dengan Surga.

Melihat wajah sang ulama, tergelitik lidah untuk bertanya kepada beliau, sesungguhnya jika satu hal diserahkan kepada ahlinya, maka kebaikanlah yang akan ada.

"Abu, saat hari kiamat tiba, maka bumi akan di hancurkan, gunung-gunung bertaburan bagai helai bulu dan langitpun di gulung, serta Allah akan menyiapkan dua tempat, yaitu surga dan neraka. Tapi di dalam Alquran tidak pernah disebutkan lautan yang luas lagi di surga, melainkan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya. Jadi, kemanakah lautan?"

Suara indah itu menjawab.
"Karena 'in dari air laut asin, maka lautan tidak ada di Surga. Yang disebutkan hanyalah sungai yang terbagi atas empat macam, yaitu sungai Susu, sungai Madu, sungai Arak dan sungai Air putih."

Lihatlah, jika engkau menyertakan suatu urusan kepada ahlinya, maka dirimu akan mendapat kepuasan dalam hasil itu.###

Share:

Sebait rasa (P9)

Ketika ini, ada kelapangan dada yang terasa di palung hati. Walau sepintas debu ketakutan hampir membuat getar pada dinding sanubari.

Berada jauh dari negeri sendiri dan berada diantara saudara seiman dari belahan penjuru dunia, terlebih lagi sendiri dalam penantian teman seirama bahasa untuk pulang ke amjad hotel, menemui mamak yang mungkin cemas dalam kesendiriannya.

Tetapi rasa aman dan tentram dihati karena Allah masih terasa dekat, terlebih lagi disini, di mesjid makam Rasulullah, madinah, mesjid nabawi, walau terasa aneh sedikit dengan situasi asing, tapi inilah dunia, penuh dengan hamba Allah dengan ribuan rupa dan bahasa.

Banyak dari mereka yang memiliki rupa yang cantik, enak di pandang, tetapi tidak sedikit dari mereka yang memiliki hati yang cantik dan... Allah menyukai kecantikan hati ini.

Ya Allah, engkau izinkan diri yang penuh dosa ini untuk menziarahi salah satu rumahmu yang di dalamnya terletak pembaringan kekasihmu.

Ya Allah... syukur tak terperi dalam lubuk hati bahwa aku engkau pilih menjadi tamumu di musim haji 1437 H/ 2016 M ini.

Semoga aku menjadi tamumu yang berakhlak baik dan semoga aku mendapatkan kado haji yang mabrur.
Amiin.. ya Rahman.
Amiin.. ya Rahim.

Share:

Wanita dengan mahar kawin termahal

"Saya terima nikahnya fulan binti fulan dengan mas kawin seperangkat alat shalat tunai."

Setidaknya pernikahan model seperti ini yang selalu di tiru oleh para artis muslim nusantara. Kendati belum paham beratnya beban yang harus di pikul setelah pengucapan akad nikah itu, dimana hal demikian bermakna bahwa sang suami harus mampu menjadi imam sekaligus pendamping istri untuk terus belajar memperbaiki dan membenarkan seluruh rangkaian shalat istri tercinta, namun demikianlah trend gaya itu tetap menjadi sebuah pilihan.

Lain halnya dengan artis yang lain. Pilihan mas kawin dalam bentuk dollar lebih menimbulkan kesan yang tinggi, sampai harus menyamakan jumlah dollar dengan tanggal, bulan dan tahun hari pernikahan.

Seorang karyawan bank ibukota menetapkan mahar kawin dirinya adalah sebesar seratus mayam emas ditambah seratus juta rupiah uang tunai sebagai uang kasih sayang. Mungkin hal ini disesuaikan dengan status dirinya di masyarakat yang mampu menjalankan hal tersebut.

Berbeda halnya dengan wanita yang mengambil sebagaimana lumrahnya yang terjadi di masyarakat atau bahkan disesuaikan dengan kemampuan sang calon suami, emas kawin mereka pun hanya beberapa mayam emas.

Ada juga mahar emas kawin wanita yang gratisan, ini terjadi jika massa masyarakat yang menjadi tuan kadhi bagi kedua mempelai.

Akan tetapi, di dunia ini sudah tercatat dan di sahkan oleh dunia alam ghaib dan nyata, bahwa seorang wanita janda bernama Rumaisha lebih tinggi derajatnya dalam hal emas kawin.

Siapakah wanita terpilih itu?
Dia adalah seorang wanita yang menjaga diri untuk menobatkan pribadinya sebagai pribadi terpilih. Itulah pilihan jalan hidupnya.

Selain terkenal shalihah, cerdas, baik hati, bijaksana dan juga berparas cantik, ibu dari Anas bin Malik ini mampu menjaga kehormatan dan meninggikan jati diri sebagai janda yang di tinggal cerai suaminya Malik bin Nadhir hanya karena Rumaisha tercatat sebagai wanita yang pertama-tama masuk islam saat Rasulullah mulai mengenalkan islam di bumi haram.

Berita tentang kecerdasan Anas bin Malik serta Rumaisha begitu cepat tersebar di padang gurun sehingga, seorang bangsawan kaya raya bernama Abu Talhah turut tertarik padanya.

"Wahai Rumaisha, maukah engkau menikah denganku?" tanya Abu Talhah.

"Abu Talhah, siapakah wanita yang akan menolak laki-laki sepertimu. Tapi aku tidak dapat menerimamu karena engkau tidak beriman." jawab Rumaisha.

"Apakah engkau menginginkan emas dan perak hingga menolakku?" tanya Abu Talhah.

"Demi Allah! Aku tidak membutuhkan emas dan perak. Jika engkau adalah seorang muslim, tentu aku akan menerimamu. Hanya itulah mahar yang ku inginkan darimu. Aku tidak meminta yang lain!" tegas Rumaisha.

Abu Talhah diam. Dia merasa bimbang. Selama ini, ia menyakini Tuhannya adalah berhala-berhala. Tak mudah baginya menerima ajaran Rasulullah SAW kepada agama yang baru kala itu.

Rasa cinta kepada Rumaisha akhirnya menjadi pembuka tabir cahaya dalam dada Abu Talhah. Iapun mengucapkan syahadat. Dan seperti janji, Rumaisha menerima Abu Talhah sebagai suaminya.

Kaum muslimin yang mengetahui pernikahan itu berkata, "Tidak ada wanita yang memiliki mahar lebih mahal dari Rumaisha, karena ia menjadikan islam sebagai maharnya."

Saat di mana islam baru sebatas lisan Rasulullah untuk di sampaikan.
Saat dimana celaan, bahkan keselamatan diri dipertaruhkan untuk menerima islam dari kaum yang membenci, seorang wanita mampu menempelkan lebel 'mahal' pada dirinya.

Sebatas manakah hebatnya wanita?
Sangat hebat jawabnya.
"Do'a perempuan lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulullah akan hal tersebut, jawab baginda,"Ibu lebih penyayang daripada bapak, dan doa orang yang penyayang tidak akan sia-sia."

Alhamdulillah!

Ya Allah, aku perempuan, curahkanlah sifat penyayang dalam diri ini.

Lalu, susahkah seorang wanita atau perempuan itu masuk surga?
Jawabnya tidak.
"Perempuan apabila shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu surga mana saja yang dia kehendaki." (HR. Bukhari)

Share:

Total Pageviews

Popular Posts

Powered by Blogger.

Apakah blog ini bermanfaat?

Translate

Copyright © Ummi Waffa Dan Tulisan | Powered by Blogger

Design by ThemePacific | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com